Kamis, 12 Maret 2015

The Unspoken #part1

49 hari dari sekarang.

Aku masih mengharapkan untuk bisa bertemu denganmu. Untuk yang terakhir kalinya mungkin. Aku tahu kamu masih marah gara-gara pesan yang aku tulis. Dan aku sangat menyesal. Aku harap kamu masih mau bertemu denganku walaupun hanya sebentar. 5 menit, 10 menit. Aku mengaharapkan lebih dari 60 menit. Hah??! What I think? Yes, itu mau aku bukan maumu. Apa pedulimu dengan mauku? Toh kamu masih marah sama aku.
Entah apa mauku begitu ingin bertemu denganmu. Hubunganpun gak ada. Perasaan ini gak jelas. Seperti ada sesuatu yang belum terlepas. Mengonggok diam tapi semakin membesar. Kamu tahu itu apa? Itu adalah rindu. Rindu ini masih menggelayuti hatiku. Memaksaku untuk terus memikirkanmu. Sampai kapan?

“Aku cuma pingin ketemu kamu, itu aja. Tapi kalaupun itu gak ganggu waktumu”. Itu adalah pesan terakhirku yang sampai sekarang gak pernah ada balasan darimu. Kamu tahu? Aku masih menunggu. Mungkin ini benar-benar rindu, sampai tadi malam aku memimpikanmu. Di mimpipun kamu enggan bertemu denganku. Hah??! Sepertinya memang kita tidak diperbolehkan untuk bertemu besok. Tapi siapa peduli? Aku egois? Iya memang aku akui itu. Tapi percayalah, aku memang benar-benar merindukanmu.

Entah apa yang akan aku lakukan jika aku sudah bertemu denganmu. Melihati matamu sampai air liurku meleleh tanpa aku sadari? Berlari untuk memelukmu tanpa peduli tatapan orang lain? Walaupun itu hanya 2 menit, sesuai dengan janjiku waktu itu. Kalaupun kamu masih mengingatnya. Mungkin akan kulakukan. Atau hanya berdiam diri seperti patung dadakan? Aku masih belum memikirkan itu.
Aku terlalu menjaga gengsiku untuk sekedar bertulis pesan “hai” atau “apa kabar?”. Aku hanya gak mau mendapat balasan yang sepele.

Aku gak tahu apa yang aku harapkan dari ini semua. Yang jelas bukan untuk memilikimu. Tapi rindu ini masih bertuankan kamu. Aku harap rindu ini akan kembali pada tuannya 49 hari lagi.

bersambung

Hug n Kiss
Tyas

Rabu, 11 Maret 2015

Tere Liye ~Rindu~ #1

Hai,
Kali ini aku mau coba nulis resensi novel. Ini satu-satunya novel yang aku beli ditahun 2014 (kayaknya bakal beli banyak novel lagi besok-besok :D). Aku beli novel karya Tere Liye, Rindu. Mungkin ini novel terbarunya soalnya dipajang dideret pertama Best Seller di Gramedia. Sebelumnya aku belum pernah baca novel karyanya Tere Liye. Aku pikir Tere Liye itu cewek lohh, tapi ternyata setelah cari biografinya di website, jeng jeng jeeeenngg ternyata cowok..ahahaaha

Ok, back to topic.
Novel ini lumayan tebel, 544 halaman. Aku bacanya pelan-pelan gak terlalu target harus kelar kapan. Here we go!

Novel ini bercerita tentang perjalanan panjang para jamaah haji Indonesia dengan menggunakan kapal Blitar Holland di penghujung tahun 1938. Masih tujuh tahun lagi Indonesia Merdeka.
Pelabuhan pertama yang kapal Blitar Holland singgahi adalah Pelabuhan Makasar, setelah itu Pelabuahan Surabaya, Semarang, Batavia, Lampung, Bengkulu, Padang, dan terakhir Pelabuhan Banda Aceh.
Hari demi hari, minggu berganti minggu berlalu. Di perjalanan panjang itu ada pertanyaan-pertanyaan yang belum mereka temukan jawabannya. Satu persatu pertanyaan itu mulai muncul. Tentang masalalu yang begitu kelam, kebencian, kehilangan orang yang kita cintai, tentang cinta sejati, dan kemunafikan. Semua akan dijawab satu persatu dengan sangat bijak oleh Gurutta ahmad Karaeng seorang tokoh yang sangat disegani oleh seluruh penumpang kapal Blitar Holland.

Masalalu yang Kelam
Di novel ini, salah satu tokohnya mempunyai masalalu yang sangat kelam. Yaitu seorang mantan pelacur. Dia selalu resah, takut ada seseorang didalam kapal yang mengetahui identitas dirinya bahwa ia seorang mantan pelacur. Dia selalu berusaha menutup diri.
“Apakah Allah akan menerimaku di Tanah Suci?”. Suatu ketika pertanyaan itu lolos dari mulutnya.
Gurutta Ahmad  Karaeng menjawabnya dengan hati-hati, mencari cara terbaik untuk menjelaskan.
Pertama, kita keliru sekali jika lari dari kenyaaan hidup, Nak. Aku tahu, limabelas tahun menjadi pelacur adalah nista yang tidak terbayangkan. Tapi sungguh, kalau kau berusaha lari dari kenyataan itu, kau hanya menyulitkan diri sendiri. Ketahuilah , semakin keras kau berusaha lari, maka semakin kuat cengkeramannya. Semakin kencang kau berteriak melawan, maka semakin kencang pula gemanya menatul, memantul, dan memantul lagi memenuhi kepalamu.”

“Cara terbaik menghadapi masalalu adalah dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu. Buat apa dilawan? Dilupakan? Itu sudah menjadi bagian hidup kita. Peluk semua kisah itu. Berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. Itulah cara terbaik mengatasinya. Dengan kau menerimanya, perlahan-lahan, dia akan memudar sendiri. Disiram oleh waktu, dipoles oleh kenangan yang baru yang lebih bahagia.”

“Kita tidak perlu membuktikan apapun kepada siapapun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. Karena toh, kalaupun orang lain menganggap kita demikian, pada akhirnya tetap kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang sebaik itu.”

“Apakah Allah akan menerima seorang pelacur di Tanah Suci? Jawabannya, hanya Allah yang tahu. Kita tidak bias menebak, menduga, memaksa, merajuk, dan sebagainya. Itu hak penuh Allah. Tapi ketahuilah Nak, ada sebuah kisah sahih dai Nabi kita. Mungkin itu akan membuatmu lebih mantap.”

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, ‘Suatu saat ada seekor anjing yang berputar-putar disekitar sumur. Anjing itu hamper mati karena kehausan, dan dia tidak bias mengambil air di dalam sumur. Kemudian, datanglah seorang pelacur dari Bani Israil yang melihat anjing itu. Pelacur itu melepas sepatunya dan mengambilkan air untuk anjing itu, dan ia pun meminumkannya kepada anjing itu. Maka, diampunilah dosa pelacur itu lantaran perbuatannya itu.”

Tiap manusia pasti punya masalalu ya, baik atau buruk masalalu itu adalah bagian dari hidup. Yang terpenting dari semua itu adalah kita harus move on, lihatlah masadepan. karena waktu tak akan berputar kembali ke masalalu. Masalalu boleh kelam tapi tidak untuk masa depan :D


Ini baru part #1, kemungkinan ada 5 part. Semoga punya banyak semangat untuk nerusin yaa..hahaha 

See you
Tyas